
MEDIA CENTER BANJARBARU — Menjelang keberangkatan ibadah ke Tanah Suci, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru menerima kunjungan jajaran Petugas Kelompok Terbang (Kloter) BDJ 10 pada Selasa (28/4/2026).
Pertemuan yang dikemas dalam bentuk rapat koordinasi (sounding) ini bertujuan untuk mematangkan persiapan pemberangkatan calon jemaah haji asal Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar yang dijadwalkan akan terbang pada 6 Mei mendatang.
Rombongan tamu dari Petugas Kloter BDJ 10 yang hadir terdiri dari: Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, 2 Tenaga Kesehatan Haji (TKH) yang terdiri dari dokter dan perawat, 2 Petugas Haji Daerah (PHD) yang terdiri dari dokter dan PHD umum.
Turut hadir dalam agenda ini perwakilan dari Kementerian Haji (KemenHaj) Banjarbaru, Bagian Kesra Setdako Banjarbaru, Pemegang Program Haji Provinsi Kalimantan Selatan, serta ketua-ketua rombongan dari Kloter BDJ 10.
Acara ini dipandu langsung oleh dr. Siti, selaku Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Banjarbaru, dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinkes Kota Banjarbaru, dr. Ani Rusmila.
Pemetaan Risiko Kesehatan Jemaah Haji
Dalam sesi paparan teknis, dr. Nahrozi Rifani selaku TKH Kloter BDJ 10 merincikan profil kesehatan jemaah. Ia menyampaikan bahwa Kloter BDJ 10 membawa total 358 jemaah dengan rincian kriteria kesehatan sebagai berikut:
- 36% Kriteria Non-Risiko Tinggi (Non-Risti)
- 11% Kriteria Risiko Tinggi (Risti) Sedang
- 42% Kriteria Risiko Tinggi (Risti) Ringan
- 11% Kriteria Risiko Tinggi (Risti) Berat”Kami telah melakukan pemetaan secara komprehensif.
Sesuai arahan Dinkesprov, kami telah memetakan 50 jemaah yang masuk dalam prioritas pengawasan, dan 7 jemaah di antaranya membutuhkan perhatian khusus. Bagi 7 jemaah tersebut, tim kami telah melakukan visitasi langsung ke rumah untuk memastikan kondisi mereka tetap stabil dan layak terbang ke Tanah Suci,” tegas dr. Nahrozi.
Langkah Mitigasi dan Antisipatif Dinkes
Perwakilan Pemegang Program Haji Provinsi Kalimantan Selatan, Rahmat, menggarisbawahi pentingnya pertemuan ini. Menurutnya, rapat koordinasi ini adalah wujud mitigasi konkret untuk memastikan jemaah benar-benar berstatus Istitha’ah (mampu secara kesehatan) dalam melaksanakan ibadah haji.
“Dengan adanya pemetaan dan mitigasi yang tepat, kita sangat berharap angka kesakitan dan kematian jemaah di Tanah Suci dapat ditekan semaksimal mungkin,” ujar Rahmat.
Sebagai bentuk langkah antisipatif, Dinkes Kota Banjarbaru juga telah mendistribusikan tablet tambah darah kepada para calon jemaah saat sesi pembekalan pada bulan Maret lalu.

Hal ini bertujuan agar pada saat pemeriksaan kesehatan Tahap 3 di embarkasi nanti, tidak ditemukan jemaah yang mengalami anemia, mengingat kondisi ini kerap menjadi penghambat kelayakan terbang.
Selain itu, terdapat beberapa instruksi penting dari Dinkes Banjarbaru menjelang keberangkatan:
1. Pemeriksaan Hb: Seluruh calon jemaah diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan Hemoglobin (Hb) di Puskesmas terdekat pada 2 Mei 2028. Hal ini dilakukan agar jika ditemukan kadar Hb yang rendah, masih ada waktu untuk melakukan koreksi medis sebelum jemaah masuk ke embarkasi.
2. Pemeriksaan Kehamilan Mandiri: Bagi calon jemaah Wanita Usia Subur (WUS), Dinkes sangat menyarankan untuk melakukan tes kehamilan secara mandiri guna menghindari kendala atau temuan mendadak saat proses screening di embarkasi.Rapat koordinasi ini berjalan dengan lancar dan penuh sinergi.
Seluruh pihak yang hadir memiliki satu visi dan harapan yang sama: agar calon jemaah haji Kloter BDJ 10 dapat berangkat dengan jumlah yang lengkap, dalam kondisi sehat, mampu menjalankan ibadah dengan nyaman, serta pulang kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat, lengkap, dan meraih predikat Haji yang Mabrur. (Orz/MedcenBjb)

Leave a Reply