MEDIA CENTER BANJARBARU – Ancaman Super El Niño pada 2026 tak boleh dipandang sebelah mata. Fenomena iklim ini berpotensi memicu panas ekstrem, kekeringan berkepanjangan, krisis air bersih, penurunan produksi pangan, hingga gangguan kesehatan yang dapat berujung pada kematian.
Peringatan tersebut disampaikan Profesor Husaini dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan. Ia menyebut dampak Super El Niño sebagai ancaman “kematian diam-diam” karena bahayanya bekerja perlahan dan kerap tidak disadari sebagai bagian dari bencana iklim.
“Super El Niño tidak merobohkan bangunan dalam semalam. Fenomena ini bekerja secara perlahan, menaikkan suhu beberapa derajat, memperpanjang kekeringan selama beberapa minggu, dan mengubah pola curah hujan ke wilayah lain. Perubahan kecil yang terlihat itu, dalam skala jutaan nyawa, dapat berubah menjadi korban jiwa yang nyata,” kata Husaini di Banjarbaru, Rabu.
Menurutnya, panas ekstrem dapat memperburuk penyakit jantung dan gangguan pernapasan. Sementara itu, kekeringan dan keterbatasan pangan berpotensi meningkatkan risiko malnutrisi, terutama bagi kelompok rentan.
“Ada pembunuh yang tak terdengar. Tak ada suara ledakan, tak ada bangunan yang runtuh, namun orang-orang bisa kehilangan nyawa akibat panas ekstrem, kekeringan, kelaparan, dan kerusakan lingkungan. Inilah yang perlu kita waspadai sebagai ‘kematian diam-diam,’” ujarnya.
Husaini mengutip laporan Reuters pada 2026 yang memuat perkiraan Climate Impact Lab dari Universitas Chicago. Panas ekstrem yang berkaitan dengan Super El Niño diperkirakan berpotensi menyebabkan hingga 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia selama Juni 2026 hingga Februari 2027.
Indonesia diperkirakan berpotensi mengalami sekitar 19.300 kematian tambahan. Angka tersebut merupakan proyeksi risiko, bukan jumlah kematian yang telah terkonfirmasi.
Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit jantung, dan pekerja luar ruangan perlu mendapat perhatian khusus. Paparan panas berkepanjangan dapat memicu dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga sengatan panas yang mengancam jiwa.
“Kita tidak boleh menunggu sampai orang mulai jatuh sakit dan angka kematian meningkat baru menyadari bahayanya. Ancaman ini perlu diidentifikasi sejak dini dengan menganalisis data iklim dan kondisi kesehatan masyarakat,” kata Husaini, yang juga menjabat Koordinator Kampus ULM Banjarbaru.
Selain berdampak pada kesehatan, kemarau panjang juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan yang rawan terbakar. Bagi Kalimantan Selatan, kondisi ini menjadi peringatan penting untuk memperkuat pengawasan titik rawan kebakaran, pengelolaan sumber air, dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Perubahan suhu, kelembapan, dan pola curah hujan juga dapat memengaruhi penyebaran penyakit, termasuk demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, pemantauan kasus, pemberantasan sarang nyamuk, dan kesiapan fasilitas kesehatan perlu diperkuat.
Ancaman lainnya adalah penurunan produksi pangan akibat terbatasnya air irigasi. Jika hasil panen menurun dan harga bahan pokok meningkat, keluarga berpenghasilan rendah berisiko mengalami penurunan kualitas konsumsi pangan, yang dapat memperburuk masalah gizi pada anak-anak dan ibu hamil.
“Ketika hasil panen menurun, air menjadi langka, dan harga pangan naik, dampaknya melampaui aspek ekonomi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Husaini menegaskan, pemerintah dan masyarakat harus memperkuat antisipasi melalui pemantauan iklim dan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, pengamanan pasokan air bersih, kesiapan pangan, serta pencegahan karhutla.
Super El Niño bukan sekadar persoalan cuaca panas. Dampak berantainya dapat mengancam kesehatan, pangan, air bersih, dan keselamatan masyarakat. Kesiapsiagaan harus dimulai sebelum ancaman berubah menjadi krisis. (Yds/MedCenBJB)


Leave a Reply