
MEDIA CENTER BANJARBARU – Masyarakat memenuhi Masjid Agung Al Munawwarah Banjarbaru untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Kamis (27/8/2026) malam. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah SAW dalam ibadah dan kehidupan bermasyarakat.
Peringatan Maulid ini diawali dengan pembacaan syair-syair Maulid, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh para qari Kota Banjarbaru yang sebelumnya meraih prestasi pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kota Banjarbaru 2025.

Setelah lantunan ayat suci Al-Qur’an, perhatian jamaah mengarah pada pesan peringatan Maulid, yang disampaikan Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru, Sirajoni atas nama Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby, bahwa peringatan Maulid bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga mengingat kembali keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ini mengingatkan kita untuk melihat kembali sosok Rasulullah sebagai teladan dalam menjalin kehidupan. Bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga bagaimana beliau bersikap kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Sirajoni membacakan sambutan Wali Kota.
Keteladanan itu, lanjutnya, dapat dimulai dari hal sederhana. Di antaranya berkata benar, bersikap sabar, menghormati orang lain dan hadir ketika ada sesama yang membutuhkan.
Nilai tersebut dinilai penting dalam kehidupan masyarakat Banjarbaru yang terus berkembang. Pembangunan tidak hanya membutuhkan kemajuan secara fisik, tetapi juga kepedulian, kerukunan dan sikap saling menghargai.
“Kita ingin Banjarbaru terus berkembang dan memberikan kehidupan yang semakin baik bagi semua masyarakat di semua tingkat usia. Pembangunan juga akan terasa lebih bermakna jika diiringi dengan masyarakat yang memiliki kepedulian, menjaga kerukunan, dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan,” lanjutnya.

Pesan tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW disampaikan Ustaz Muhammad Rijal Fathoni dalam tausiah malam itu. Ia mengisahkan seekor rusa yang terlepas dari tangkapan seorang pemburu dan berlindung di belakang Rasulullah SAW. Rusa tersebut kemudian meminta waktu untuk menyusui kedua anaknya yang kehausan, sementara Rasulullah SAW menjadi jaminan bahwa rusa itu akan kembali. Kisah tersebut, menurut Ustaz Rijal, menggambarkan kasih sayang Rasulullah SAW bahkan kepada makhluk lain hingga membuat pemburu yang semula tidak beriman akhirnya memeluk Islam.
Ustaz Rijal juga mengisahkan ketika Siti Aisyah meminta doa kepada Rasulullah SAW. Doa yang dipanjatkan Nabi untuk Siti Aisyah kemudian disebut sebagai doa yang juga senantiasa dipanjatkan untuk umatnya setiap kali selesai melaksanakan salat.
Ceramah tersebut membawa jamaah pada pesan tentang besarnya kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Ustaz Rijal menyebut menjadi umat Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu kenikmatan besar yang diberikan Allah.
Melalui peringatan Maulid tersebut, jamaah diajak tidak berhenti pada perayaan, tetapi membawa kembali nilai keteladanan Rasulullah SAW ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari keluarga hingga lingkungan masyarakat. (Ald/Orz/MedCenBJB)

Leave a Reply